Follow on Facebook

Thursday, October 6, 2016

Orang membaca surat Al-Hasyr jika ia meninggal dunia pada hari itu juga maka ia akan dianggap sebagai orang yang mati syahid

Orang membaca surat Al-Hasyr jika ia meninggal dunia pada hari itu juga maka ia akan dianggap sebagai orang yang mati syahid


Tafsir Surat Al Hasyr Ayat 18-24

Ayat 18-20: Mengingatkan kaum mukmin dengan hari Kiamat, dan menjelaskan perbedaan antara penghuni surga dan penghuni neraka.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ (١٨) وَلا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ (١٩) لا يَسْتَوِي أَصْحَابُ النَّارِ وَأَصْحَابُ الْجَنَّةِ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمُ الْفَائِزُونَ (٢٠)
Terjemah Surat Al Hasyr Ayat 18-20
18. [1]Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.
19. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, sehingga Allah menjadikan mereka lupa akan diri sendiri[2]. Mereka itulah orang-orang yang fasik[3].
20. Tidak sama para penghuni neraka dengan para penghuni surga; para penghuni surga itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan[4].
Ayat 21-24: Menerangkan tentang keagungan Al Qur’an, menyucikan Allah Subhaanahu wa Ta'aala dari sifat-sifat kekurangan dan menyebutkan beberapa Al Asmaa’ul Husna dan sifat-sifat-Nya Yang Tinggi.

 
 
لَوْ أَنْزَلْنَا هَذَا الْقُرْآنَ عَلَى جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَتِلْكَ الأمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ (٢١) هُوَ اللَّهُ الَّذِي لا إِلَهَ إِلا هُوَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ (٢٢)هُوَ اللَّهُ الَّذِي لا إِلَهَ إِلا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ (٢٣) هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الأسْمَاءُ الْحُسْنَى يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (٢٤)
Terjemah Surat Al Hasyr Ayat 21-24
21. [5]Sekiranya Kami turunkan Al Quran ini kepada sebuah gunung[6], pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia agar mereka berfikir.
22. [7]Dialah Allah, tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Dia. [8]Mengetahui yang gaib dan yang nyata. Dialah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
23. Dialah Allah, tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Dia. Maha Raja, Yang Mahasuci[9], Yang Mahasejahtera[10], Yang Memberikan keamanan[11], Yang Maha Mengawasi, Yang Mahaperkasa[12], Yang Mahakuasa[13], Yang memiliki segala keagungan[14]. Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan[15].
24. Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa[16], Dia memiliki nama-nama yang indah[17]. Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada-Nya. Dan Dialah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana[18].

[1] Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan hamba-hamba-Nya yang mukmin untuk melakukan kehendak dari keimanan dan konsekwensinya yaitu tetap bertakwa kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala baik dalam keadaan rahasia maupun terang-terangan dan dalam setiap keadaan serta memperhatikan perintah Allah baik syariat-Nya maupun batasan-Nya serta memperhatikan apa yang dapat memberi mereka manfaat dan membuat mereka celaka serta memperhatikan hasil dari amal yang baik dan amal yang buruk pada hari Kiamat. Karena ketika mereka menjadikan akhirat di hadapan matanya dan di depan hatinya, maka mereka akan bersungguh-sungguh memperbanyak amal yang dapat membuat mereka berbahagia di sana, menyingkirkan penghalang yang dapat memberhentikan mereka dari melakukan perjalanan atau menghalangi mereka atau bahkan memalingkan mereka darnya. Demikian juga, ketika mereka mengetahui bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'aala Mahateliti terhadap apa yang mereka kerjakan, dimana amal mereka tidak ada yang tersembunyi bagi-Nya dan tidak akan sia-sia serta diremehkan-Nya, maka yang demikian dapat membuat mereka semakin semangat beramal saleh.
Ayat ini merupakan asas dalam meintrospeksi diri, dan bahwa sepatutnya seorang hamba memeriksa amal yang dikerjakannya, ketika ia melihat ada yang cacat, maka segera disusul dengan mencabutnya, bertobat secara tulus (taubatan nashuha) dan berpaling dari segala sebab yang dapat membawa dirinya kepada cacat tersebut. Demikian juga ketika ia melihat kekurangan pada dirinya dalam menjalankan perintah Allah, maka ia mengerahkan kemampuannya sambil meminta pertolongan kepada Tuhannya untuk dapat menyempurnakan kekurangan itu dan memperbaikinya serta mengukur antara nikmat-nikmat Allah dan ihsan-Nya yang banyak dengan kekurangan pada amalnya, dimana hal itu akan membuatnya semakin malu kepada-Nya. Sungguh rugi seorang yang lalai terhadap masalah ini dan mirip dengan orang-orang yang lupa kepada Allah; lalai dari mengingat-Nya serta lalai dari memenuhi hak-Nya dan mendatangi keuntungan terbatas bagi dirinya dan hawa nafsunya sehingga mereka tidak mendapatkan keberuntungan, bahkan Allah Subhaanahu wa Ta'aala menjadikan mereka lupa terhadap maslahat diri mereka, maka keadaan mereka menjadi melampaui batas, mereka pulang ke akhirat dengan membawa kerugian di dunia dan akhirat serta tertipu dengan tipuan yang sulit ditutupi, karena mereka adalah orang-orang yang fasik.
[2] Yakni janganlah kamu kamu lupa mengingat Allah, sehingga Dia menjadikan kamu lupa beramal saleh untuk maslahat dirimu, karena balasan disesuaikan dengan jenis amalan.
[3] Yaitu orang-orang yang keluar dari ketaatan kepada Allah dan menjatuhkan diri mereka ke lembah kemaksiatan.
[4] Maksudnya, apakah sama antara orang yang menjaga ketakwaan kepada Allah dan memperhatikan amal yang dilakukannya untuk menghadapi akhirat sehingga ia berhak mendapatkan surga dan kehidupan yang menyenangkan dengan orang-orang yang lalai dari mengingat Allah, melupakan hak-hak-Nya sehingga ia pun menjadi celaka di dunia dan berhak mendapatkan neraka di akhirat? Yang pertama memperoleh kemenangan, sedangkan yang kedua memperoleh kerugian.
[5] Setelah Allah Subhaanahu wa Ta'aala menerangkan kepada hamba-hamba-Nya apa yang telah Dia terangkan, demikian pula Dia telah menyebutkan perintah dan larangan, dimana hal ini mengharuskan mereka untuk bersegera kepada apa yang diserukan itu dan meskipun hati mereka dalam hal kerasnya seperti gunung, namun Al Qur’an ini karena dalam nasihatnya dan perintah-perintah dan larangan-larangannya mengandung hikmah dan maslahat, maka sekiranya diturunkan ke atas suatu gunung, tentu engkau akan melihat gunung tersebut tunduk terpecah belah karena takut kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala.
Perintah-perintah itu perintah yang paling mudah bagi hati dan paling ringan bagi badan serta bersih dari taklif (pembebanan) yang berat dan menindas, dan perintah-perintah itu cocok di setiap waktu, tempat dan umat.
Di penghujung ayat Allah Subhaanahu wa Ta'aala memberitahukan bahwa Dia membuat perumpamaan itu dan menerangkan yang halal dan yang haram kepada hamba-hamba-Nya adalah agar mereka memikirkan ayat-ayatnya dan mentadabburinya, karena dengan memikirkan dan mentadabburinya akan terbuka berbagai macam ilmu, menerangkan kepada seseorang jalan kebaikan dan keburukan, mendorongnya berakhlak mulia dan mencegahnya dari akhlak yang buruk, sehingga tidak ada yang paling memberikan manfaat bagi seorang hamba daripada memikirkan Al Qur’an dan mentadabburi maknanya.
[6] Dan ia dijadikan mampu membedakan seperti halnya manusia, sebagaimana disebutkan dalam tafsir Al Jalaalain.
[7] Ayat ini dan setelahnya mengandung banyak nama-nama Allah Subhaanahu wa Ta'aala yang indah dan sifat-sifat-Nya yang tinggi, agung perkaranya dan indah buktinya. Dia memberitahukan bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'aala adalah Tuhan yang berhak disembah karena kesempurnaan-Nya, ihsan-Nya yang merata dan pengaturan-Nya yang menyeluruh. Oleh karena itu, segala sesembahan selain-Nya adalah batil; tidak berhak disembah karena keadaannya yang fakir, lemah dan memiliki banyak kekurangan serta tidak berkuasa apa-apa terhadap dirinya maupun selainnya.
[8] Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyifati Diri-Nya dengan pengetahuan-Nya yang menyeluruh baik yang gaib bagi makhluk maupun yang tidak gaib (tampak), demikian juga dengan meratanya rahmat-Nya yang mengena kepada segala sesuatu. Selanjutnya, Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengulangi lagi uluhiyyah-Nya (keberhakan-Nya diibadahi, tidak selain-Nya), dan bahwa Dia yang memiliki segala sesuatu baik alam bagian atas, alam bagian bawah maupun penghuninya, semuanya milik Allah, butuh kepada-Nya dan diatur-Nya.
[9] Dari segala yang tidak layak bagi-Nya.
[10] Yang selamat dari aib dan kekurangan; yang diagungkan dan dimuliakan.
[11] Bisa juga diartikan yang membenarkan para rasul-Nya dengan ayat dan mukjizat, dengan hujjah dan bukti.
[12] Dia tidak dapat dikalahkan, bahkan Dia menundukkan segala sesuatu dan segala sesuatu tunduk kepada-Nya.
[13] Dia menundukkan semua makhluk, menutupi hati orang yang sedih dan mengkayakan orang yang fakir.
[14] Dia memiliki kebesaran dan keagungan, Dia bersih dari segala aib, kekurangan dan kezaliman.
[15] Ini adalah pensucian-Nya secara umum dari segala sifat yang diberikan orang-orang musyrik untuk-Nya.
[16] Nama-nama ini terkait dengan menciptakan, mengatur dan menentukan, dimana semua itu hanya Allah Subhaanahu wa Ta'aala yang melakukan tanpa ada sekutu.
[17] Dia memiliki nama-nama yang banyak sekali, dimana tidak ada yang dapat menjumlahkannya selain Allah Subhaanahu wa Ta'aala. Meskpun begitu, semua nama-Nya adalah indah, sifat-sifat yang sempurna, bahkan menunjukkan sifat yang paling sempurna dan paling agung, dimana tidak ada kekurangan di sana dari berbagai sisi. Di antara indahnya adalah bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyukainya, menyukai orang yang menyukainya dan menyukai orang-orang yang berdoa dan meminta dengan nama-nama itu. Demikian pula di antara sempurnanya dan bahwa Dia memiliki nama-nama yang indah dan sifat-sifat yang tinggi adalah bahwa semua yang ada di langit dan di bumi butuh terus kepada-Nya, bertasbih dengan memuji-Nya, meminta dipenuhi kebutuhannya, lalu Dia memberikan apa yang mereka minta itu dari karunia-Nya dan kemurahan-Nya yang dikehendaki oleh rahmat dan hikmah-Nya.
[18] Apa yang dikehendaki-Nya pasti terjadi dan hal itu tidak terjadi kecuali karena hikmah dan maslahat.
Selesai tafsir surah Al Hasyr dengan pertolongan Allah dan taufiq-Nya, wal hamdulillahi Rabbil ‘aalamiin.
- See more at: http://www.tafsir.web.id/2013/04/tafsir-surat-al-hasyr-ayat-18-24.html#sthash.W8pIsc2a.dpuf

Tafsir Surat Al Hasyr Ayat 18-24

Ayat 18-20: Mengingatkan kaum mukmin dengan hari Kiamat, dan menjelaskan perbedaan antara penghuni surga dan penghuni neraka.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ (١٨) وَلا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ (١٩) لا يَسْتَوِي أَصْحَابُ النَّارِ وَأَصْحَابُ الْجَنَّةِ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمُ الْفَائِزُونَ (٢٠)
Terjemah Surat Al Hasyr Ayat 18-20
18. [1]Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.
19. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, sehingga Allah menjadikan mereka lupa akan diri sendiri[2]. Mereka itulah orang-orang yang fasik[3].
20. Tidak sama para penghuni neraka dengan para penghuni surga; para penghuni surga itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan[4].
Ayat 21-24: Menerangkan tentang keagungan Al Qur’an, menyucikan Allah Subhaanahu wa Ta'aala dari sifat-sifat kekurangan dan menyebutkan beberapa Al Asmaa’ul Husna dan sifat-sifat-Nya Yang Tinggi.

 
 
لَوْ أَنْزَلْنَا هَذَا الْقُرْآنَ عَلَى جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَتِلْكَ الأمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ (٢١) هُوَ اللَّهُ الَّذِي لا إِلَهَ إِلا هُوَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ (٢٢)هُوَ اللَّهُ الَّذِي لا إِلَهَ إِلا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ (٢٣) هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الأسْمَاءُ الْحُسْنَى يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (٢٤)
Terjemah Surat Al Hasyr Ayat 21-24
21. [5]Sekiranya Kami turunkan Al Quran ini kepada sebuah gunung[6], pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia agar mereka berfikir.
22. [7]Dialah Allah, tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Dia. [8]Mengetahui yang gaib dan yang nyata. Dialah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
23. Dialah Allah, tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Dia. Maha Raja, Yang Mahasuci[9], Yang Mahasejahtera[10], Yang Memberikan keamanan[11], Yang Maha Mengawasi, Yang Mahaperkasa[12], Yang Mahakuasa[13], Yang memiliki segala keagungan[14]. Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan[15].
24. Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa[16], Dia memiliki nama-nama yang indah[17]. Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada-Nya. Dan Dialah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana[18].

[1] Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan hamba-hamba-Nya yang mukmin untuk melakukan kehendak dari keimanan dan konsekwensinya yaitu tetap bertakwa kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala baik dalam keadaan rahasia maupun terang-terangan dan dalam setiap keadaan serta memperhatikan perintah Allah baik syariat-Nya maupun batasan-Nya serta memperhatikan apa yang dapat memberi mereka manfaat dan membuat mereka celaka serta memperhatikan hasil dari amal yang baik dan amal yang buruk pada hari Kiamat. Karena ketika mereka menjadikan akhirat di hadapan matanya dan di depan hatinya, maka mereka akan bersungguh-sungguh memperbanyak amal yang dapat membuat mereka berbahagia di sana, menyingkirkan penghalang yang dapat memberhentikan mereka dari melakukan perjalanan atau menghalangi mereka atau bahkan memalingkan mereka darnya. Demikian juga, ketika mereka mengetahui bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'aala Mahateliti terhadap apa yang mereka kerjakan, dimana amal mereka tidak ada yang tersembunyi bagi-Nya dan tidak akan sia-sia serta diremehkan-Nya, maka yang demikian dapat membuat mereka semakin semangat beramal saleh.
Ayat ini merupakan asas dalam meintrospeksi diri, dan bahwa sepatutnya seorang hamba memeriksa amal yang dikerjakannya, ketika ia melihat ada yang cacat, maka segera disusul dengan mencabutnya, bertobat secara tulus (taubatan nashuha) dan berpaling dari segala sebab yang dapat membawa dirinya kepada cacat tersebut. Demikian juga ketika ia melihat kekurangan pada dirinya dalam menjalankan perintah Allah, maka ia mengerahkan kemampuannya sambil meminta pertolongan kepada Tuhannya untuk dapat menyempurnakan kekurangan itu dan memperbaikinya serta mengukur antara nikmat-nikmat Allah dan ihsan-Nya yang banyak dengan kekurangan pada amalnya, dimana hal itu akan membuatnya semakin malu kepada-Nya. Sungguh rugi seorang yang lalai terhadap masalah ini dan mirip dengan orang-orang yang lupa kepada Allah; lalai dari mengingat-Nya serta lalai dari memenuhi hak-Nya dan mendatangi keuntungan terbatas bagi dirinya dan hawa nafsunya sehingga mereka tidak mendapatkan keberuntungan, bahkan Allah Subhaanahu wa Ta'aala menjadikan mereka lupa terhadap maslahat diri mereka, maka keadaan mereka menjadi melampaui batas, mereka pulang ke akhirat dengan membawa kerugian di dunia dan akhirat serta tertipu dengan tipuan yang sulit ditutupi, karena mereka adalah orang-orang yang fasik.
[2] Yakni janganlah kamu kamu lupa mengingat Allah, sehingga Dia menjadikan kamu lupa beramal saleh untuk maslahat dirimu, karena balasan disesuaikan dengan jenis amalan.
[3] Yaitu orang-orang yang keluar dari ketaatan kepada Allah dan menjatuhkan diri mereka ke lembah kemaksiatan.
[4] Maksudnya, apakah sama antara orang yang menjaga ketakwaan kepada Allah dan memperhatikan amal yang dilakukannya untuk menghadapi akhirat sehingga ia berhak mendapatkan surga dan kehidupan yang menyenangkan dengan orang-orang yang lalai dari mengingat Allah, melupakan hak-hak-Nya sehingga ia pun menjadi celaka di dunia dan berhak mendapatkan neraka di akhirat? Yang pertama memperoleh kemenangan, sedangkan yang kedua memperoleh kerugian.
[5] Setelah Allah Subhaanahu wa Ta'aala menerangkan kepada hamba-hamba-Nya apa yang telah Dia terangkan, demikian pula Dia telah menyebutkan perintah dan larangan, dimana hal ini mengharuskan mereka untuk bersegera kepada apa yang diserukan itu dan meskipun hati mereka dalam hal kerasnya seperti gunung, namun Al Qur’an ini karena dalam nasihatnya dan perintah-perintah dan larangan-larangannya mengandung hikmah dan maslahat, maka sekiranya diturunkan ke atas suatu gunung, tentu engkau akan melihat gunung tersebut tunduk terpecah belah karena takut kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala.
Perintah-perintah itu perintah yang paling mudah bagi hati dan paling ringan bagi badan serta bersih dari taklif (pembebanan) yang berat dan menindas, dan perintah-perintah itu cocok di setiap waktu, tempat dan umat.
Di penghujung ayat Allah Subhaanahu wa Ta'aala memberitahukan bahwa Dia membuat perumpamaan itu dan menerangkan yang halal dan yang haram kepada hamba-hamba-Nya adalah agar mereka memikirkan ayat-ayatnya dan mentadabburinya, karena dengan memikirkan dan mentadabburinya akan terbuka berbagai macam ilmu, menerangkan kepada seseorang jalan kebaikan dan keburukan, mendorongnya berakhlak mulia dan mencegahnya dari akhlak yang buruk, sehingga tidak ada yang paling memberikan manfaat bagi seorang hamba daripada memikirkan Al Qur’an dan mentadabburi maknanya.
[6] Dan ia dijadikan mampu membedakan seperti halnya manusia, sebagaimana disebutkan dalam tafsir Al Jalaalain.
[7] Ayat ini dan setelahnya mengandung banyak nama-nama Allah Subhaanahu wa Ta'aala yang indah dan sifat-sifat-Nya yang tinggi, agung perkaranya dan indah buktinya. Dia memberitahukan bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'aala adalah Tuhan yang berhak disembah karena kesempurnaan-Nya, ihsan-Nya yang merata dan pengaturan-Nya yang menyeluruh. Oleh karena itu, segala sesembahan selain-Nya adalah batil; tidak berhak disembah karena keadaannya yang fakir, lemah dan memiliki banyak kekurangan serta tidak berkuasa apa-apa terhadap dirinya maupun selainnya.
[8] Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyifati Diri-Nya dengan pengetahuan-Nya yang menyeluruh baik yang gaib bagi makhluk maupun yang tidak gaib (tampak), demikian juga dengan meratanya rahmat-Nya yang mengena kepada segala sesuatu. Selanjutnya, Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengulangi lagi uluhiyyah-Nya (keberhakan-Nya diibadahi, tidak selain-Nya), dan bahwa Dia yang memiliki segala sesuatu baik alam bagian atas, alam bagian bawah maupun penghuninya, semuanya milik Allah, butuh kepada-Nya dan diatur-Nya.
[9] Dari segala yang tidak layak bagi-Nya.
[10] Yang selamat dari aib dan kekurangan; yang diagungkan dan dimuliakan.
[11] Bisa juga diartikan yang membenarkan para rasul-Nya dengan ayat dan mukjizat, dengan hujjah dan bukti.
[12] Dia tidak dapat dikalahkan, bahkan Dia menundukkan segala sesuatu dan segala sesuatu tunduk kepada-Nya.
[13] Dia menundukkan semua makhluk, menutupi hati orang yang sedih dan mengkayakan orang yang fakir.
[14] Dia memiliki kebesaran dan keagungan, Dia bersih dari segala aib, kekurangan dan kezaliman.
[15] Ini adalah pensucian-Nya secara umum dari segala sifat yang diberikan orang-orang musyrik untuk-Nya.
[16] Nama-nama ini terkait dengan menciptakan, mengatur dan menentukan, dimana semua itu hanya Allah Subhaanahu wa Ta'aala yang melakukan tanpa ada sekutu.
[17] Dia memiliki nama-nama yang banyak sekali, dimana tidak ada yang dapat menjumlahkannya selain Allah Subhaanahu wa Ta'aala. Meskpun begitu, semua nama-Nya adalah indah, sifat-sifat yang sempurna, bahkan menunjukkan sifat yang paling sempurna dan paling agung, dimana tidak ada kekurangan di sana dari berbagai sisi. Di antara indahnya adalah bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyukainya, menyukai orang yang menyukainya dan menyukai orang-orang yang berdoa dan meminta dengan nama-nama itu. Demikian pula di antara sempurnanya dan bahwa Dia memiliki nama-nama yang indah dan sifat-sifat yang tinggi adalah bahwa semua yang ada di langit dan di bumi butuh terus kepada-Nya, bertasbih dengan memuji-Nya, meminta dipenuhi kebutuhannya, lalu Dia memberikan apa yang mereka minta itu dari karunia-Nya dan kemurahan-Nya yang dikehendaki oleh rahmat dan hikmah-Nya.
[18] Apa yang dikehendaki-Nya pasti terjadi dan hal itu tidak terjadi kecuali karena hikmah dan maslahat.
Selesai tafsir surah Al Hasyr dengan pertolongan Allah dan taufiq-Nya, wal hamdulillahi Rabbil ‘aalamiin.
- See more at: http://www.tafsir.web.id/2013/04/tafsir-surat-al-hasyr-ayat-18-24.html#sthash.W8pIsc2a.dpuf

Tafsir Surat Al Hasyr Ayat 18-24

Ayat 18-20: Mengingatkan kaum mukmin dengan hari Kiamat, dan menjelaskan perbedaan antara penghuni surga dan penghuni neraka.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ (١٨) وَلا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ (١٩) لا يَسْتَوِي أَصْحَابُ النَّارِ وَأَصْحَابُ الْجَنَّةِ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمُ الْفَائِزُونَ (٢٠)
Terjemah Surat Al Hasyr Ayat 18-20
18. [1]Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.
19. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, sehingga Allah menjadikan mereka lupa akan diri sendiri[2]. Mereka itulah orang-orang yang fasik[3].
20. Tidak sama para penghuni neraka dengan para penghuni surga; para penghuni surga itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan[4].
Ayat 21-24: Menerangkan tentang keagungan Al Qur’an, menyucikan Allah Subhaanahu wa Ta'aala dari sifat-sifat kekurangan dan menyebutkan beberapa Al Asmaa’ul Husna dan sifat-sifat-Nya Yang Tinggi.

 
 
لَوْ أَنْزَلْنَا هَذَا الْقُرْآنَ عَلَى جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَتِلْكَ الأمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ (٢١) هُوَ اللَّهُ الَّذِي لا إِلَهَ إِلا هُوَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ (٢٢)هُوَ اللَّهُ الَّذِي لا إِلَهَ إِلا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ (٢٣) هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الأسْمَاءُ الْحُسْنَى يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (٢٤)
Terjemah Surat Al Hasyr Ayat 21-24
21. [5]Sekiranya Kami turunkan Al Quran ini kepada sebuah gunung[6], pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia agar mereka berfikir.
22. [7]Dialah Allah, tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Dia. [8]Mengetahui yang gaib dan yang nyata. Dialah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
23. Dialah Allah, tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Dia. Maha Raja, Yang Mahasuci[9], Yang Mahasejahtera[10], Yang Memberikan keamanan[11], Yang Maha Mengawasi, Yang Mahaperkasa[12], Yang Mahakuasa[13], Yang memiliki segala keagungan[14]. Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan[15].
24. Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa[16], Dia memiliki nama-nama yang indah[17]. Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada-Nya. Dan Dialah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana[18].

[1] Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan hamba-hamba-Nya yang mukmin untuk melakukan kehendak dari keimanan dan konsekwensinya yaitu tetap bertakwa kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala baik dalam keadaan rahasia maupun terang-terangan dan dalam setiap keadaan serta memperhatikan perintah Allah baik syariat-Nya maupun batasan-Nya serta memperhatikan apa yang dapat memberi mereka manfaat dan membuat mereka celaka serta memperhatikan hasil dari amal yang baik dan amal yang buruk pada hari Kiamat. Karena ketika mereka menjadikan akhirat di hadapan matanya dan di depan hatinya, maka mereka akan bersungguh-sungguh memperbanyak amal yang dapat membuat mereka berbahagia di sana, menyingkirkan penghalang yang dapat memberhentikan mereka dari melakukan perjalanan atau menghalangi mereka atau bahkan memalingkan mereka darnya. Demikian juga, ketika mereka mengetahui bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'aala Mahateliti terhadap apa yang mereka kerjakan, dimana amal mereka tidak ada yang tersembunyi bagi-Nya dan tidak akan sia-sia serta diremehkan-Nya, maka yang demikian dapat membuat mereka semakin semangat beramal saleh.
Ayat ini merupakan asas dalam meintrospeksi diri, dan bahwa sepatutnya seorang hamba memeriksa amal yang dikerjakannya, ketika ia melihat ada yang cacat, maka segera disusul dengan mencabutnya, bertobat secara tulus (taubatan nashuha) dan berpaling dari segala sebab yang dapat membawa dirinya kepada cacat tersebut. Demikian juga ketika ia melihat kekurangan pada dirinya dalam menjalankan perintah Allah, maka ia mengerahkan kemampuannya sambil meminta pertolongan kepada Tuhannya untuk dapat menyempurnakan kekurangan itu dan memperbaikinya serta mengukur antara nikmat-nikmat Allah dan ihsan-Nya yang banyak dengan kekurangan pada amalnya, dimana hal itu akan membuatnya semakin malu kepada-Nya. Sungguh rugi seorang yang lalai terhadap masalah ini dan mirip dengan orang-orang yang lupa kepada Allah; lalai dari mengingat-Nya serta lalai dari memenuhi hak-Nya dan mendatangi keuntungan terbatas bagi dirinya dan hawa nafsunya sehingga mereka tidak mendapatkan keberuntungan, bahkan Allah Subhaanahu wa Ta'aala menjadikan mereka lupa terhadap maslahat diri mereka, maka keadaan mereka menjadi melampaui batas, mereka pulang ke akhirat dengan membawa kerugian di dunia dan akhirat serta tertipu dengan tipuan yang sulit ditutupi, karena mereka adalah orang-orang yang fasik.
[2] Yakni janganlah kamu kamu lupa mengingat Allah, sehingga Dia menjadikan kamu lupa beramal saleh untuk maslahat dirimu, karena balasan disesuaikan dengan jenis amalan.
[3] Yaitu orang-orang yang keluar dari ketaatan kepada Allah dan menjatuhkan diri mereka ke lembah kemaksiatan.
[4] Maksudnya, apakah sama antara orang yang menjaga ketakwaan kepada Allah dan memperhatikan amal yang dilakukannya untuk menghadapi akhirat sehingga ia berhak mendapatkan surga dan kehidupan yang menyenangkan dengan orang-orang yang lalai dari mengingat Allah, melupakan hak-hak-Nya sehingga ia pun menjadi celaka di dunia dan berhak mendapatkan neraka di akhirat? Yang pertama memperoleh kemenangan, sedangkan yang kedua memperoleh kerugian.
[5] Setelah Allah Subhaanahu wa Ta'aala menerangkan kepada hamba-hamba-Nya apa yang telah Dia terangkan, demikian pula Dia telah menyebutkan perintah dan larangan, dimana hal ini mengharuskan mereka untuk bersegera kepada apa yang diserukan itu dan meskipun hati mereka dalam hal kerasnya seperti gunung, namun Al Qur’an ini karena dalam nasihatnya dan perintah-perintah dan larangan-larangannya mengandung hikmah dan maslahat, maka sekiranya diturunkan ke atas suatu gunung, tentu engkau akan melihat gunung tersebut tunduk terpecah belah karena takut kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala.
Perintah-perintah itu perintah yang paling mudah bagi hati dan paling ringan bagi badan serta bersih dari taklif (pembebanan) yang berat dan menindas, dan perintah-perintah itu cocok di setiap waktu, tempat dan umat.
Di penghujung ayat Allah Subhaanahu wa Ta'aala memberitahukan bahwa Dia membuat perumpamaan itu dan menerangkan yang halal dan yang haram kepada hamba-hamba-Nya adalah agar mereka memikirkan ayat-ayatnya dan mentadabburinya, karena dengan memikirkan dan mentadabburinya akan terbuka berbagai macam ilmu, menerangkan kepada seseorang jalan kebaikan dan keburukan, mendorongnya berakhlak mulia dan mencegahnya dari akhlak yang buruk, sehingga tidak ada yang paling memberikan manfaat bagi seorang hamba daripada memikirkan Al Qur’an dan mentadabburi maknanya.
[6] Dan ia dijadikan mampu membedakan seperti halnya manusia, sebagaimana disebutkan dalam tafsir Al Jalaalain.
[7] Ayat ini dan setelahnya mengandung banyak nama-nama Allah Subhaanahu wa Ta'aala yang indah dan sifat-sifat-Nya yang tinggi, agung perkaranya dan indah buktinya. Dia memberitahukan bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'aala adalah Tuhan yang berhak disembah karena kesempurnaan-Nya, ihsan-Nya yang merata dan pengaturan-Nya yang menyeluruh. Oleh karena itu, segala sesembahan selain-Nya adalah batil; tidak berhak disembah karena keadaannya yang fakir, lemah dan memiliki banyak kekurangan serta tidak berkuasa apa-apa terhadap dirinya maupun selainnya.
[8] Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyifati Diri-Nya dengan pengetahuan-Nya yang menyeluruh baik yang gaib bagi makhluk maupun yang tidak gaib (tampak), demikian juga dengan meratanya rahmat-Nya yang mengena kepada segala sesuatu. Selanjutnya, Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengulangi lagi uluhiyyah-Nya (keberhakan-Nya diibadahi, tidak selain-Nya), dan bahwa Dia yang memiliki segala sesuatu baik alam bagian atas, alam bagian bawah maupun penghuninya, semuanya milik Allah, butuh kepada-Nya dan diatur-Nya.
[9] Dari segala yang tidak layak bagi-Nya.
[10] Yang selamat dari aib dan kekurangan; yang diagungkan dan dimuliakan.
[11] Bisa juga diartikan yang membenarkan para rasul-Nya dengan ayat dan mukjizat, dengan hujjah dan bukti.
[12] Dia tidak dapat dikalahkan, bahkan Dia menundukkan segala sesuatu dan segala sesuatu tunduk kepada-Nya.
[13] Dia menundukkan semua makhluk, menutupi hati orang yang sedih dan mengkayakan orang yang fakir.
[14] Dia memiliki kebesaran dan keagungan, Dia bersih dari segala aib, kekurangan dan kezaliman.
[15] Ini adalah pensucian-Nya secara umum dari segala sifat yang diberikan orang-orang musyrik untuk-Nya.
[16] Nama-nama ini terkait dengan menciptakan, mengatur dan menentukan, dimana semua itu hanya Allah Subhaanahu wa Ta'aala yang melakukan tanpa ada sekutu.
[17] Dia memiliki nama-nama yang banyak sekali, dimana tidak ada yang dapat menjumlahkannya selain Allah Subhaanahu wa Ta'aala. Meskpun begitu, semua nama-Nya adalah indah, sifat-sifat yang sempurna, bahkan menunjukkan sifat yang paling sempurna dan paling agung, dimana tidak ada kekurangan di sana dari berbagai sisi. Di antara indahnya adalah bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyukainya, menyukai orang yang menyukainya dan menyukai orang-orang yang berdoa dan meminta dengan nama-nama itu. Demikian pula di antara sempurnanya dan bahwa Dia memiliki nama-nama yang indah dan sifat-sifat yang tinggi adalah bahwa semua yang ada di langit dan di bumi butuh terus kepada-Nya, bertasbih dengan memuji-Nya, meminta dipenuhi kebutuhannya, lalu Dia memberikan apa yang mereka minta itu dari karunia-Nya dan kemurahan-Nya yang dikehendaki oleh rahmat dan hikmah-Nya.
[18] Apa yang dikehendaki-Nya pasti terjadi dan hal itu tidak terjadi kecuali karena hikmah dan maslahat.
Selesai tafsir surah Al Hasyr dengan pertolongan Allah dan taufiq-Nya, wal hamdulillahi Rabbil ‘aalamiin.
- See more at: http://www.tafsir.web.id/2013/04/tafsir-surat-al-hasyr-ayat-18-24.html#sthash.W8pIsc2a.dpuf
Surat al Hasyr Ayat 18 - 24, Diriwayatkan dari Muqatil bin Yasar bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Siapa saja yang membaca 'A'udzu billaahis-sami'il 'aliimi minasy-syaitoonir rajiim' dan membaca tiga ayat terakhir surat Al Hasyr pada pagi hari sebanyak 3 kali, Allah akan mengutus tujuh puluh ribu malaikat kepadanya. Malaikat itu memohonkan ampunan baginya hingga sore hari. Jika dia meninggal pada hari itu, ia wafat sebagai syahid. Siapa saja yang membacanya pada sore hari, dia akan memperoleh balasan yang sama." (HR. Ahmad dan Tirmizdi).



Surat Al-Hasyr merupakan salah satu surat di antara surat-surat Al-Qur’an Al-Karim. Barangsiapa yang membacanya secara lengkap atau membaca sebagian ayat-ayatnya pada waktu-waktu tertentu maka ia akan memperoleh pahala dan keutamaan yang besar sebagaimana disebutkan di dalam beberapa hadits nabi shallallahu alaihi wasallam. Di antara keutamaan-keutamaan membacanya adalah sebagai berikut :

1. Orang yang membaca surat Al-Hasyr akan dimintakan ampunan oleh 70.000 (tujuh puluh ribu) malaikat dari pagi hingga sore, atau sebaliknya.
2. Orang yang membaca surat Al-Hasyr, jika ia meninggal dunia pada hari itu juga, maka ia akan dianggap sebagai orang yang mati syahid.
3. Orang yang membaca surat Al-Hasyr berhak menjadi penghuni surga.


Demikianlah beberapa keutamaan besar yang akan didapatkan oleh siapa saja yang membacanya. Akan tetapi sayangnya hadits-hadits yang menjelaskan keutamaan-keutamaan surat Al-Hasyr ini tidak ada yang shohih datangnya dari Nabi shallallahu alaihi wasallam sebagaimana telah diteliti dan dikoreksi oleh para ulama hadits yang kredibel di bidangnya.

Berikut ini akan saya sebutkan hadits-hadits yang menjelaskan keutamaan membaca surat Al-Hasyr.

Hadits Pertama:
عَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « مَنْ قَالَ حِينَ يُصْبِحُ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ أَعُوذُ بِاللَّهِ السَّمِيعِ الْعَلِيمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ وَقَرَأَ ثَلاَثَ آيَاتٍ مِنْ آخِرِ سُورَةِ الْحَشْرِ وَكَّلَ اللَّهُ بِهِ سَبْعِينَ أَلْفَ مَلَكٍ يُصَلُّونَ عَلَيْهِ حَتَّى يُمْسِىَ وَإِنْ مَاتَ فِى ذَلِكَ الْيَوْمِ مَاتَ شَهِيدًا وَمَنْ قَالَهَا حِينَ يُمْسِى كَانَ بِتِلْكَ الْمَنْزِلَةِ ». قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ لاَ نَعْرِفُهُ إِلاَّ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ.

Diriwayatkan dari Ma’qil bin Yasar, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Siapa saja yang membaca , A’udzhu billahi as-Sami’ al-’Alim, min asy-Syaithan ar-Rajim dan membaca tiga ayat terakhir surat al-Hasyr pada pagi hari sebanyak tiga kali, maka Allah akan mengutus 70.000 (tujuh puluh ribu) malaikat kepadanya. Malaikat itu memohonkan ampunan baginya hingga sore hari. Jika dia meninggal pada hari itu, dia wafat sebagai Syahid. Dan siapa saja yang membacanya pada sore hari, dia akan memperoleh balasan yang sama.” (HR. Ahmad V/26 no.20321, dan at-Tirmidzi V/182 no.2922, Ibnu As-Sunni dalam Amal Al-Yaum wa Al-Lailah no.78

Imam at-Tirmidzi mengatakan: “Hadits ini gharib, kami tidak mengetahuinya kecuali dari jalan periwayatan ini.”

DERAJAT HADITS:
Hadits ini derajatnya DHO’IF (Lemah).
Di dalam sanad hadits ini ada seorang perowi yang bernama Kholid bin Thohman Abul ‘Ala’ Al-Khoffaaf, dia seorang perowi yang dho’if (lemah).

Yahya bin Ma’in berkata tentangnya: “Dia itu orang yang dho’if. Telah mengalami kekacauan dalam hafalannya sejak sepuluh tahun sebelum wafatnya. Padahal sebelum itu dia seorang yang tsiqoh (terpercaya). Dalam masa kekacauan hafalannya, dia membenarkan semua riwayat yang disampaikan kepadanya.”
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqolani berkata tentangnya: “Dia perowi yang shoduuq (jujur) , tetapi tertuduh menganut faham syi’ah, kemudian pernah mengalami kekacauan dalam hafalannya.” (Lihat Taqrib At-Tahdzib no.1644).

Syaikh Al-Albani mengatakan, “Hadits ini Dho’if (lemah).” (Lihat Irwa’ al-Ghalil no.342, dan Dho’if Al-Jami’ Ash-Shoghir no.5732)

Hadits Kedua:
Surat al Hasyr Ayat 18 - 24 Diriwayatkan pula dari Abu Umamah radhiyallahu anhu, dengan lafazh:
من قرأ خواتيم الحشر من ليل أو نهار فقبض في ذلك اليوم أو الليلة فقد أوجب الجنة
“Barangsiapa membaca ayat-ayat terakhir dari surat Al-Hasyr di waktu siang atau malam hari, lalu dia meninggal dunia pada hari itu, maka ia berhak masuk surga.”

DERAJAT HADITS:
Hadits ini derajatnya DHO’IF JIDDAN (Sangat Lemah).
Syaikh Al-Albani mengatakan, “Hadits ini Dho’if jiddan (sangat lemah).” (Lihat Silsilah Al-Ahadits Adh-Dho’ifah X/133 no. 4631, dan Dho’if Al-Jami’ Ash-Shoghir no.5770)

Hadits Ketiga:
Dan disebutkan pula dalam riwayat lain dengan lafazh:
اسم الله الأعظم في ست آيات من آخر سورة الحشر
“Nama Allah yang paling agung ada pada enam ayat terakhir dari surat Al-Hasyr.”
Syaikh Al-Albani mengatakan, “Hadits ini Dho’if (lemah).” (Lihat Dho’if Al-Jami’ Ash-Shoghir no.853)

Hadits Keempat:
Disebutkan pula dalam riwayat lain dengan lafazh:
إذا أخذت مضجعك فاقرأ سورة الحشر ، إن مت مت شهيدا
“Jika engkau hendak tidur, maka bacalah surat Al-Hasyr. Jika engkau mati, maka engkau mati dalam keadaan syahid.”

Syaikh Al-Albani mengatakan, “Hadits ini Dho’if (lemah).” (Lihat Dho’if Al-Jami’ Ash-Shoghir no.307).
Dengan demikian, tidak ada satu riwayat pun yang shohih dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam tentang keutamaan surat Al-Hasyr. Kita tidak boleh meyakini riwayat-riwayat tersebut di atas kemudian mengamalkannya. Cukuplah bagi kita beribadah kepada Allah dan mencari pahala dan keutamaan-keutamaan amalan atau bacaan Al-Quran berdasarkan hadits-hadits yang shohih dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Wallahu ta’ala a’lam bish-showab.

Semoga bermanfaat, Saya berdoa agar usaha jaket kulit yang saya jalankan secara online berkembang pesat, bisa membantu orang lain, amin.

QS. AL Hasyr Ayat 20-21 dan Terjemahannnya.

لا يستوى اصحب النار واصحب الجنة اصحب الجنة هم الفائزون
Tiada sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni syurga; penghuni-penghuni syurga itulah orang-orang yang beruntung”. QS. Al Hasyr : 20. (Depag RI. 1992. h. 919).
لو انزلنا هذالقران على جبل لرايته خاشعا متصدعا من خشية الله وتلك الامثال نضربها للناس لعلهم يتفكرون
“Kalau sekiranya Kami menurunkan Al Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Alloh. Dan perumpamaan-perumpamaan itu kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir”. QS. Al Hasyr: 21 (DEPAG. 1992.h. 919)
 Tafsir Mufradat

M Qurays Shihab dalam Tafsir Al Misbah Vol. 14 h. 133 menyatakan Kata (الامثال) Al-Amtsal adalah bentuk jamak dari kata (مثل) Matsal yang biasa digunakan Al-Qur’an dalam arti perumpamaan yang aneh atau menakjubkan. Matsal bukan persamaan antara dua hal, ia hanya perumpamaan, memang ada perbedaan antara matsal dan mitsil, yang kedua (mitsil) mengandung makna persamaan bahkan keserupaan atau kemiripan, sedang matsal tekanannya lebih banyak pada keadaan atau sifat yang menakjubkan yang dilukiskan oleh kalimat matsal itu. Banyak hal yang menakjubkan atau aneh yang diuraikan Al-Qur’an. matsal dapat menampung banyak makna, ia memerlukan perenungan yang mendalam untuk memahaminya secara baik, itu sebabnya Al Qur’an menegaskan bahwa:
وتلك الامثال نضربها للناس وما يعقلها الاالعالمون
Dan perumpamaan-perumpamaan ini kami buatkan untuk manusia ; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang berilmu”(QS. Al-‘ankabut : 43) .
خاشعا : hina dan tunduk.  متصدعا : retak. (Syaikh Muhammad Ali As Syabuni : 2001)

Munasabah antar Ayat dan Hadis terkait
Surat Al Hasyr terdiri atas 24 ayat, termasuk golongan surat Madaniyyah, diturunkan sesudah surat Al Bayyinah. Dinamai surat ini Al Hasyr (Pengusiran) diambil dari perkataan “Al Hasyr” yang terdapat pada ayat ke 2 surat ini. Di dalam surat ini disebutkan kisah pengusiran suatu suku Yahudi yang bernama Bani Nadhir yang berdiam di sekitar kota Madinah. (Depag RI, h. 914) 

Surat Al Hasyr merupakan Surat yang ke 59. Surat ini menerangkan tentang bagimana seharusnya sikap setiap orang Islam terhadap orang orang yang tidak Islam yang melakukan tindakan-tindakan yang merugikan umat Islam sebagai yang dilakukan oleh Bani Nadhir, hukum fai dan pembagiannya, kewajiban bertakwa; ketinggian dan keagungan Al Qur’an kemudian ditutup dengan sebahagian Al Asma’ul Husna. (Depag RI, h. 920). Pembahasan akan difokuskan pada ayat yang ke 20 dan ke 21 dari Al Qur’an Surat Al-Hasyr. 

Firman Alloh Subhanahu wata’ala dalam Surat Al Hasyr ayat 20, menerangkan tentang perbedaan antara orang-orang yang menghuni surga dengan orang-orang yang menghuni neraka. Hal itu dinyatakan dalam bentuk pertanyaan : “Adakah sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni surga? “ Alloh Subhanahu wata’ala menggugah hati manusia guna berfikir tentang keadaan keduanya. Tentu seorang manusia yang berakal akan menyatakan bahwa keduanya tidaklah sama. Sehingga dijelaskan perbedaan mereka dengan disebutkan pada kelanjutan ayat : “Penghuni-penghuni sorga mereka itulah orang-orang yang beruntung”.

Dalam kitab Jamiul Ahkamil Qur’an milik Beliau Al Imam Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad Al Anshori Al Qurtubi rodliyallohu’anh (yang lebih dekenal sebagai Tafsir Al Qurtubi)  dinyatakan bahwa :
قوله تعالى: "لا يستوي أصحاب النار وأصحاب الجنة" أي في الفضل والرتبة "أصحاب الجنة هم الفائزون" أي المقربون المكرمون.

Firman Alloh Subhanahu Wata’ala : “Tidaklah sama penghuni neraka dan penghuni sorga” yaitu dalam hal keutamaan dan golongan. “Penghuni sorga merekalah orang-orang yang beruntung” yaitu : muqorrobun (orang-orang yang dekat di sisi Alloh Subhanahu wata’ala) mukrimuun (Orang-orang yang mulia di sisi Alloh Subhanahu wata’ala)
وقيل: الناجون من النار
Dan dinyatakan dalam satu pendapat lain,  yang dimaksud sebagai Faizuun adalah golongan orang-orang yang diselamatkan dari neraka.
Kesesuaian makna dari QS. Al Hasyr 20 tersebut berkesesuaian dengan Ayat Al Qur’an yang lain dinyatakan dalam QS. Shod : 28; QS. Al-Maidah : 100; QS. As-Sajdah : 18, sebagai berikut : 
أم نجعل الذين آمنوا وعملوا الصالحات كالمفسدين في الأرض ؟ أم نجعل المتقين كالفجار
“Patutkah Kami menganggap orang orang yang beriman dan mengerjakan amal sholeh sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi? Patutkah (pula) Kami menganggap orang-orang yang bertakwa sama dengan orang orang yang berbuat maksiat? “ QS. Shod : 28 (Depag RI:736)
قل لا يستوى الخبيث والطيب ولو اعجبك كثرة الخبيث فاتقو الله ياولى الالباب لعلكم تفلحون
“Katakanlah : “Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Alloh Hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan” . Al Maidah : 100 (Depag RI : 179)
افمن كان مؤمنا كمن كان فاسقا لا يستون
“Maka apakah orang yang beriman seperti orang yang fasik (kafir) ? Mereka tidak sama”
QS. As Sajdah : 18 (Depag RI. H. 662) 

Beliau Syaikh Muhammad Ali Ash-Shabuni (Shofwatut Tafasir : 300) menjelaskan “Tiadalah sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni surga” pada hari kiamat, tidak sama antara orang orang yang celaka dan orang-orang yang beruntung, antara ahli surga dan ahli neraka, dalam hal anugrah dan kedudukan. “Penghuni-penghuni surga itulah orang orang yang beruntung”; ahli surga adalah orang orang yang meraih kebahagiaan abadi di negeri kenikmatan dan itulah keberuntungan yang agung.

Kemudian Alloh menyebutkan kehebatan Al Qur’an dan pengaruhnya pada gunung-gunung yang tinggi yang tuli. Alloh berfirman : “Kalau sekiranya Kami menurunkan Al Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah diseabkan takut kepada Alloh” seandainya Kami ciptakan akal pikiran pada gunung sebagaimana Kami ciptakan akal untuk manusia dan kami turunkan kepadanya Al Qru’an ini dengan janji dan ancamannya, tentu gunung yang tenang akan tunduk dan pecah karena takut kepada alloh. Ini menggambarkan keagungan Al Qur’an dan kuatnya pengaruhynya. Seandainya gunung yang demikian kuat dan keras, kemudian Al Qur’an diturunkan kepaanya tentu kamu melihatnya tunduk dan retak karena takut kepada Alloh. 

Tujuan ayat ini ingin mengkritik manusia karena ia tidak menjadi tunduk ketika membaca Al Qur’an. Bahkan ia berpaling dari isi Al Qur’an yang berupa hal-hal yang ajaib dan agung. Dengan demikian, maka ayat ini menjelaskan keagungan Al Qur’an dan kehinaan manusia. Dalam Al Bahr al Muhith disebutkan tujuan ayat ini ingin mengkritik manusia atas hatinya yang keras dan tidak terpengaruh oleh al Qur’an ini. Padahal seandainya diturunkan kepada gunung maka tunduk dan meletus. Jika gunung yang demikian besar dan keras saja berubah menjadi tunduk dan retak, maka manusia lebih layak terhadap hal itu. 

Namun karena hina dan lemah manusia tidak demikian. “Dan perumpamaan-perumpaamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berpikir”. Permisalan itu Kami rinci dan jelaskan kepada umat manusia agar mereka merenungi bukti-bukti kekuasaan Alloh dan keesaan Nya lalu mereka mau beriman.

Jika Anda masih ada pertanyaan mengenai informasi ini atau kritik dan saran atau masukan atau apapun juga mengenai site ini, dengan senang hati dan secepatnya akan Saya respon, untuk itu silahkan hubungi Saya Agus Duradjak,SE di hp 081323739973 bbm 29E26136 Telepon 022-85920070, terima kasih Anda telah membaca informasi ini semoga bermanfaat dengan judul Orang membaca surat Al-Hasyr jika ia meninggal dunia pada hari itu juga maka ia akan dianggap sebagai orang yang mati syahid.

About Me

My photo

AGUS DURADJAK,SE HP 0815 603 9973 / 0813 2373 9973 BBM DA895741 ► CV.FAMILY CIWIDEY MORE INFO about Wisata di Ciwidey-Bandung Selatan Akomodasi, Tiket Objek Wisata, Catering Murah di Ciwidey , Home ►Panundaan No.17 Rt 01 Rw 05 Ciwidey-Bandung.